Sebuah upaya menerjemahkan kalimat-kalimat sederhana yang tak lagi mampu menampung besarnya perasaan ke dalam bahasa sastra.
Sebuah upaya menerjemahkan kalimat-kalimat sederhana yang tak lagi mampu menampung besarnya perasaan ke dalam bahasa sastra.
Sebuah bait tentang duniaku yang sunyi, yang akhirnya menemukan rumah pada tawamu yang riuh.
Terpisah oleh dua dunia yang saling bertolak belakang, apakah mungkin mencapai keseimbangan itu?
Seorang figuran yang berusaha mencintai pemeran utama dalam sebuah kisah.
Kenangan di tempat berteduh ketika bumi sedang menitikkan air mata rindu.
Biarkanlah aku bermimpi sejenak, jika memang itu caraku berharap kepada Yang Mahakuasa.
Rehat sejenak sembari menikmati deburan ombak yang menyapa kakiku sebelum kembali kepada kehidupan nyata.
Sekedar menyaksikanmu dari bangku itu sudah cukup bagiku.
Kenyataan terkadang tidak sesuai dengan angan kita.
Tanggal merah bersamamu adalah tempat rehat terbaik dalam hidupku.
Kutitipkan rinduku kepada angin yang akan kau hirup disana.
Di dalam keheningan, tersimpan berjuta emosi yang mungkin tidak bisa dipasarkan di depan khalayak.
Sometimes a sacrifice must be made, just to see you happy with someone you love.
Sebuah puisi tentang kepingan memori dari Jemari.
Sebuah puisi tentang seseorang yang senyumannya menjadi dunia bagi penulis dengan harapan bahwa dia tidak malu untuk mengeluarkan pesonanya
Perasaan hampa yang dialami seseorang yang belum bisa lupa.
Terpisah oleh garis waktu yang berbeda
Ingatanku kambuh ketika termangu di bangku kereta api.
Terjebak di dalam bola salju bersamamu.
Jika takdir menjadi jurang pemisah, maka tak ada gunanya dilanjutkan.