Published
- 2 min read
Rindu Lewat Jeda
Rindu Lewat Jeda
Malam sebentar lagi berganti menjadi pagi.
Tapi kita berdua masih saling bercerita tentang hari yang melelahkan.
Jaringan internet terkadang terputus, membuat wajah dan suaramu hilang sejenak. Dan di heningnya momen itu, aku sadar betapa jauhnya Tuhan memisahkan jarak kita.
Aku iri pada angin di kotamu. Ia bisa menyentuh pipimu tanpa harus menunggu hari libur tiba. Ia juga bisa mengacak rambutmu dengan leluasa tanpa beban apapun.
Aku juga iri dengan orang-orang disana. Mereka bisa melihatmu tanpa biaya. Mereka bisa berpapasan denganmu meskipun tidak mengenalmu. Mereka bisa berbicara denganmu tanpa perlu sinyal yang lemah.
Bahkan aku cemburu pada cangkir kopi yang akan kau genggam nanti. Ia bisa merasakan hangat jemarimu setiap hari. Segala hal yang ada di sekitarmu tampak begitu beruntung, Hanya karena mereka ada di sana, sementara aku terjebak di sini.
”Sudah ya, bateraiku mau habis,” katamu mengakhiri percakapan kita. Semua menjadi hening kembali, menyisakan suara kipas yang berputar mendinginkanku. Aku sadar bahwa jarak bukanlah yang paling menyiksa, tetapi detik pertama setelah suaramu hilang dari telingaku.
Tapi tak apa, biarlah mereka memilikimu sesaat di sana. Karena aku tahu bahwa di akhir cerita ini, pulangmu tetap ke arahku. Aku memang benci jarak ini. Tapi hanya dengan melihat wajahmu yang patah-patah di layar itu, sudah cukup membuatku bertahan satu minggu lagi.