Home

Published

- 2 min read

Ruang Aksara Series #1: Menarasikan Rasa yang Tak Sekadar Biasa

img of Ruang Aksara Series #1: Menarasikan Rasa yang Tak Sekadar Biasa

Pernahkah teman-teman merasa sesuatu yang kalian sampaikan itu terlalu sederhana untuk menampung perasaan yang sedang berapi-api? Kadang, kata-kata yang ingin kita sampaikan ke orang lain itu kurang bisa mendeskripsikan apa yang sebenarnya sedang bergejolak di dalam dada.

Di Ruang Aksara kali ini, aku ingin mengajak kalian melihat bagaimana sebuah kalimat biasa bisa menjadi sesuatu yang lebih hidup, lebih dalam, dan barangkali lebih mewakili apa yang tidak bisa diucapkan. Langsung saja ke pembahasannya.


Ketika ingin mengucapkan selamat jalan

Biasa : “Hati-hati ya.”

Sastra :

Barangkali engkau terjatuh, aku selalu berdoa agar semesta selalu rela memelukmu ketika berada jauh dari jangkauanku.

Kutitipkan peluk lewat Dia, semoga semesta merangkulmu dari jatuh yang mungkin tak terduga.


Ketika menemukan kenyamanan

Biasa : “Aku senang ngobrol denganmu.”

Sastra :

Sejak mengenalmu, toko buku favoritku adalah isi kepalamu.


Ketika jarak dan waktu terasa berat

Biasa : “Aku kangen/rindu kamu.”

Sastra :

Aku menyimpan namamu di setiap jeda yang tak pernah kuterangkan kepada siapapun.

Di tengah hiruk pikuk dunia yang bising, yang kurasa bukan sepi, melainkan hampa. Aku menyelam ke lautan yang paling dalam. Mencari ingatan akan jejak sentuhanmu, hangat telapak tanganmu saat menggenggam jemariku. Anehnya, di tengah dinginnya lautan itu, ingatan akan hangatmulah api yang menjagaku tetap utuh.

Riuh dunia tak mampu membunuh hampa ini. Maka, aku memilih membuka kembali buku itu. Membaca ulang lembaran kisah yang pernah kita tulis. Dan disanalah, kenanganmu menjadi satu-satunya garis waktu yang menolak maju.


Ketika Kehilangan Kendali

Biasa : Salting (Salah tingkah)

Sastra :

Di hadapan tenang suaramu, pertahananku runtuh. Pipiku memerah mengkhianati logikaku, dan jantungku berantakan merayakan tiap kata yang kau ucap. Ini curang, kau membuatku kehilangan kendali, tapi anehnya aku rela tak berdaya.


Pada Akhirnya, Tentang Keindahan dan Cinta

Di sastra, kita tidak sekadar bilang, “Kamu cantik sekali.” Sebab, kamu terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata yang sederhana. Aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana.

Maka, saat perasaan itu meluap, kalimat “Aku cinta kamu” bunyinya menjadi:

Jangan minta aku mencintaimu dengan sederhana. Sebab bagiku, menarasikanmu dengan kata-kata biasa adalah ketidakadilan. Kamu terlalu rumit untuk disederhanakan, dan terlalu indah untuk sekadar menjadi abjad yang terbaca. Mencintaimu dengan sederhana, rasanya seperti meremehkan mahakarya Tuhan yang ada padamu.


Kadang, kita butuh sastra bukan untuk memperumit keadaan, tapi untuk memberi ruang pada perasaan agar bisa bernapas lebih lega.

Dari beberapa terjemahan rasa di atas, mana yang paling mewakili isi kepalamu saat ini? Atau mungkin, kamu punya versi bahasamu sendiri? Simpanlah rapat-rapat dalam hati, atau biarkan kata-kata itu kelak menemukan tuannya sendiri.

Sampai jumpa di catatan Ruang Aksara Series berikutnya.